Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2023

AKU DALAM KESEDIHAN

AKU DALAM KESEDIHAN By:  Winaria Lubis Andaikan sunyi itu berlagu... Dan sepi bersuara... Mungkin sunyi berdendang riang... Dan sepi mula beramah tandang... Tiada keluh kesah dan rungutan perasaan... Hanya desah dendang sayang... Irama lagu berbisik kegairahan Melodi mungkin tiada lagi kesedihan... Dan petikkan jemari mungkin terdiam... Andaikan nuraniku tak teriris sembilu... Kan kutelusuri lembah pagi... Memeluk ketenangan pada lantai bumi... Menjemput suasana damai... Lalu diri terasyik membuai... Seiring hembusan angin, kuhadir merangkul alam-MU Andaikan sunyi hilang tiada lagi ilham... Pasti sepi akan mengajar kecurangan... Mengarah diri berdendang keasyikan... Dalam riuh alam dan tiada lagi ketenangan... Seperti gejolak sedihku menitik titik pada sukma... Bagai dilema terbuang sayang, digenggam terbakar... Aku dalam kesedihan... (Jakarta, 27 September 2013) By. Cinta Dewi Kelana

MALAM DAN KESUNYIAN

MALAM DAN KESUNYIAN Oleh: Winaria Lubis Terkadang pada malam kita menemukan inspirasi. Seumpama rembulan terlihat terang menawan saat gemintang menyinari... Terkadang pada sunyi kita menemukan ketenangan. Meski sendirian merajut malam tanpa dendang, tanpa dongeng sang kancil, tanpa pesona cinta seseorang. Hidup harus dijalani dengan sabar dengan hati lapang. Tanpa duga dan prasangka. Memaknai setiap kalimat dengan prasangka baik tanpa buruk sangka. Dan aku, suka pada malam dengan segala kesunyian dan keheningannya. Karena aku ingin hanya malam saja tahu apa sebenarnya yang kurasa. Terima kasih malam. Padamu aku titipkan goresan-goresan. Padamu aku titipkan suara hati. Padamu aku menemukan satu, dua, tiga bintang terang. Tuk kugapai bersama sayap pengaharapan. Jakarta, Kamis, 17 Maret 2022 00:50 WIB #CintaDewiKelana

DIAM ADALAH CARAKU BERBAHASA KEPADA ILLAHI

DIAM ADALAH CARAKU BERBAHASA KEPADA ILLAHI Oleh: Winaria Lubis Alam mengajarkan cinta dengan diamnya. Memelihara cinta dalam diamnya. Semesta mengajarkan kasih sayang dalam diamnya. Dan diam telah mengajarkan kita banyak bahasa. Bahasa tentang bagaimana hati memilih cinta. Bahasa tentang bagaimana rindu yang selalu berpihak pada satu, dua sosok. Bahasa tentang bagaimana jiwa berserah pada Sang Pemilik Jiwa. Bahasa tentang sedih, nelangsa, senyum, tawa, dan bahagia. Diam dan bahasa dua hal yang padu. Diam adalah bahasa yang selama ini disampaikan bumi kepada langit. Diam adalah bahasa yang selama ini disampaikan hujan kepada tanah. Diam adalah bahasa yang selama ini disampaikan angin kepada pucuk-pucuk teh dan bunga. Diam adalah bahasa yang selama ini disampaikan tanah kepada akar pohon. Diam adalah bahasa yang selama ini disampaikan malam kepada pagi. Dan kini, diam adalah bahasa yang aku sampaikan kepadamu meski seluruh rongga hati dan pikiranku menyeru nama-MU penuh. Karena diam adal...

TERIMA KASIH BINTANG

TERIMA KASIH BINTANG By. Cinta Dewi Kelana Wajahmu membekas dan mengenang, dan selalu ada. Sosokmu bagai kesatria tampan gagah berkuda. Aku takluk dalam pesonamu. Aku pasrah dalam kharismamu. Mumpuni ilmumu dan bersahaja pribadimu. Sabar dan setia dalam menghadapi aku. Terkadang, aku ingin menunjukkan kalau aku masih mampu menjadi putri dewi. Dan terkadang, aku ingin membuktikan bila aku masih mampu menjadi bunga. Sedang kau, dengan sabarmu membimbingku dengan cinta. Terima kasih, wahai bintang. Kau telah mampu bersinar dalam tiap gelap langkahku hingga ketika aku hampir tersesat dan terhempas, sinarmu menyelematkanku... Terima kasih, wahai bintang. Kau akan tetap menjadi bintang di hatiku. Tanpa pernah ada yang bisa mengganti. Jakarta, 13 April 2022 (11 Ramadhan 1443 H.)

AKUMU

  AKUMU Oleh: Cinta Dewi Kelana Memikirkan derai rindu yang menganga dalam palung hati. Membuat tanya tentang seraut wajah yang terjelma dalam mimpi. Lalu... Aku menari, gemulai dalam indahnya rayumu, yang mengusap syahdu tatapanku. Sempat kuberpikir, adakah aku dalam rintihan rindumu...? Yang memelukmu meski semu, namun itulah asa yang terukir di inginmu. Hai, kamu... Kita adalah mimpi. Kita adalah asa yang tak mungkin. Dan kita, adalah rindu yang terkristal. Meski kita punya satu imajinasi, bersama dalam merangkul hati. Memetik setangkai cinta yang tercumbui malam. Atau mereguk seteguk angan dalam siang yang tak lagi perawan. Hai, kamu... Biarlah kita hanya kenang yang terbumbui oleh seoles rindu. Atau kita hanya ikatan yang bernoktah luka dan sembilu. Tak layak kita menjeput rindu meski angin menawarkan kesejukan dalam keinginan. Achhh... Kuikhlaskan kau memelukku dalam ratapan rindu. Atau mencumbuiku dalam ganasnya anganmu tentangku. Karena akumu ini adalah sebuah episode yang...

JANGAN SALAHKAN RINDU

JANGAN SALAHKAN RINDU Oleh: Winaria Lubis Jangan menyalahkan rindu... Sebab, karena rindulah, engkau ada di sini. Menatapku dari sisi yang berbeda. Lalu, menghayalkanku duduk bersandar di lenganmu. Menerbitkan senyum di bibirmu. Menghadirkan khawatir di hatimu. Jangan menyalahkan rindu. Bila dirimu ternyata mudah menyerah pada jarak dan waktu untuk sekadar bertemu. Hanya janji di bibirmu yang bermadu. Lalu, kau pun takluk dengan keputusasaanmu. Jangan menyalahkan rindu. Bila lamaran dan pinanganmu tak jua menaut dalam ijab kabul sebagai tanda cinta dan kesetiaanmu. Jadi, berhentilah menyalahkan rindu. By: Cinta Dewi Kelana Jakarta, 16 April 2022

DAN, LUKA ITU...

DAN, LUKA ITU... Oleh: Winaria Lubis Dan, luka itu... Kini akan menganga lagi. Akan terlintas dan membekas. Akan menguras derai lara. Akan menuai isakku. Akan meluluhlantakkan segenap perasaan dan pikiran. Karena kematianmu saat semua orang merayakan kemenangannya. Saat takbir menggema menggaungkan kebesaran nama-NYA... Kasiiiihh... Tak ingin ku menangisi semua masa lalu dan kenangannya. Tapi, aku tak mampu... Dirimu terlalu indah bila aku ingin melupakan. Laksana cahaya terang dalam gulita tak berlentera. Kau begitu berarti... Sayaaangku... Walau aku terpuruk dan tenggelam dalam nelangsa yang teramat dalam. Kau tetap terukir dalam tiap untaian doaku. Karena untukmu ada asa yang kutitipkan pada Sang Pemilik Keabadian. Tidurlah sayang. Istirahatlah dengan tenang. Pada masanya, aku pun pasti datang menjelang dalam keabadian yang penuh pertanggungjawaban... By. Cinta Dewi Kelana Jakarta, 24 April 2022 (22 Ramadhan 1443 H)

HAI KAMU, MESKI KAU BUKAN BINTANG

  HAI KAMU, MESKI KAU BUKAN BINTANG By: Cinta Dewi Kelana Ketika hati digelitik oleh lakumu yang syahdu... Sungging senyumku pun sumringah... Yah, entah apa yang terjadi...? Di balik kekagumanku atas sosokmu yang chemistry. Siapakah kamu? Entahlah... Tak inginku kau hadir memublikasikan diri. Biarlah hanya kita yang tahu. Sederap hadirmu yang singgah meski sesaat mewarnai hati yang pucat. Dan menyirami jiwa yang nyaris gersang. Don't you show up here. Because I don't want to be disturbed and disturbed by those who don't understand our story. Cukup hanya aku dan kamu yang tahu. (Jakarta, 24 April 2022) Catatan Hati

PADA DUA PER TIGA MALAM

PADA DUA PER TIGA MALAM Oleh: Winaria Lubis Pada ⅔ malam hatiku. Saat ini hanya ada dua tempat untuk kita berjumpa. Pertama dalam doa dan kedua dalam puisi. Sebagai rindu kuselipkan namamu dalam doa untuk lelaki yang bertutur halus dan bijaksana. Sebagai angan kuterjemahkan sikapmu lewat puisi untuk lelaki yang memiliki wibawa dan kharisma. Aku melihat tanda cinta padamu lelakiku yang berwajah senja. Ku khayalkan kamu pelukmu sayangmu hangatmu sikapmu dan dalamnya sorot matamu. Tentang betapa indah kasihmu. Tentang betapa jernih kilaumu. Pada ⅔ malam ini aku ada di sini meski tak rutin namun kupaksakan menyiapkan waktu. Agar aku bisa menitipkan rindu pada Sang Pemilik Rindu untuk disampaikan kepadamu duhai lelakiku yang kini telah pergi. Tapi, bukan untuk kembali. Mungkin suatu saat nanti kita akan dipertemukan kembali. Jakarta, Kamis, 05 Mei 2022 Di ⅔ malam. By: Cinta Dewi Kelana

BAHASA NEGRIKU, BAHASA INDONESIA

  BAHASA NEGRIKU, BAHASA INDONESIA Oleh: Winaria Lubis (Puisi untuk diperlombakan pada ajang BULAN BAHASA 2019 tingkat SMP) Kami, putra dan putri Indonesia, Menjunjung tinggi bahasa persatuan BAHASA INDONESIA Tergaung semangat jiwa perjuangan Dalam kobar namamu, INDONESIAKU Wajahmu adalah wajah negriku yang indah Seindah dirimu, namamu agung dalam ngiang telinga dunia… Aku bangga… Aku kagum… Aku bahagia… Meski diterjang halang dan aral melintang Meski diterjang badai dan topan.. Takkan raib ditelan masa Keagunganmu menciptakan rasa cinta setiap insan Hingga menumbuhkan kebanggaan dalam jiwa Terhadap INDONESIA Indonesiaku, bahasamu pun indah. Bahasa Indonesia. Ada di peringkat ketujuh dari enam ribu sembilan ratus dua belas jumlah bahasa yang ada di dunia Setelah Mandarin, Inggris, Hindi, Spanyol, Arab, dan Rusia Penuturmu hampir mencapai 300 juta jiwa Bahasamu banyak digunakan di Malaysia, Singapura, Brunei, dan Timor Leste Tidak kurang dari 52 negara yang mempelajari bahasa ...