DIAM ADALAH CARAKU BERBAHASA KEPADA ILLAHI
DIAM ADALAH CARAKU
BERBAHASA KEPADA ILLAHI
Oleh: Winaria Lubis
Alam mengajarkan cinta dengan diamnya.
Semesta mengajarkan kasih sayang dalam diamnya.
Dan diam telah mengajarkan kita banyak bahasa.
Bahasa tentang bagaimana hati memilih cinta.
Bahasa tentang bagaimana rindu yang selalu berpihak pada satu, dua sosok.
Bahasa tentang bagaimana jiwa berserah pada Sang Pemilik Jiwa.
Bahasa tentang sedih, nelangsa, senyum, tawa, dan bahagia.
Diam dan bahasa dua hal yang padu.
Diam adalah bahasa yang selama ini disampaikan bumi kepada langit.
Diam adalah bahasa yang selama ini disampaikan hujan kepada tanah.
Diam adalah bahasa yang selama ini disampaikan angin kepada pucuk-pucuk teh dan bunga.
Diam adalah bahasa yang selama ini disampaikan tanah kepada akar pohon.
Diam adalah bahasa yang selama ini disampaikan malam kepada pagi.
Dan kini, diam adalah bahasa yang aku sampaikan kepadamu meski seluruh rongga hati dan pikiranku menyeru nama-MU penuh.
Karena diam adalah bahasa yang hanya bisa dipahami dengan hati.
Hati yang jernih, yang bisa melihat diam sebagai sebuah puisi indah.
Sebagai sajak panjang di pengujung malam yang sunyi.
Sajak yang kulisankan dengan bahasa yang baru kuukir tadi dalam diam.
Sajak yang kurangkai dengan deraian lara dan airmata.
Sajak yang kutuangkan di atas mihrab cinta.
Lalu, aku tersungkur, terisak, dan tak berdaya.
Dan aku kembali terdiam dalam seribu bahasa yang tak terucap.
Diamku adalah bahasa yang terindah, yang hanya dipahami oleh aku dan Illahi.
Memilih diam adalah memilih berkomunikasi dengan diri sendiri.
Biarkan diam ini hanya TUHAN yang memahami.
Aku memilih diam sebab aku tahu,
Allah tidak akan diam.
Allah pasti berbuat sesuatu yang aku tidak tahu.
Tapi aku selalu tahu, bahwa Allah tidak sekali pun meninggalkanku.
Karena Allah adalah sebaik-baik
tempat aku mengadu.
Meski iman di dada turun naik tak tentu.
Namun, kesungguhan untuk hijrah
selalu tulus berbisik.
Meski terkadang sendu mendramatisir dalam syahdunya hatiku.
ILLAHI-ku...
Biarkan kunikmati cinta-MU.
Kuresapi dengan segenap kepasrahan dan kerinduan.
Yang kutafsirkan dalam diam dan kurangkai dengan bahasa rindu dan cinta.
Pada-MU seluruh hidup dan matiku.
Karena diam
adalah caraku
berbicara pada-MU
ROBBI-ku...
Komentar
Posting Komentar