AKUMU

 AKUMU


Memikirkan derai rindu yang menganga dalam palung hati.
Membuat tanya tentang seraut wajah yang terjelma dalam mimpi.
Lalu...
Aku menari,
gemulai dalam indahnya rayumu,
yang mengusap syahdu tatapanku.
Sempat kuberpikir,
adakah aku dalam rintihan rindumu...?
Yang memelukmu meski semu,
namun itulah asa yang terukir di inginmu.
Hai, kamu...
Kita adalah mimpi.
Kita adalah asa yang tak mungkin.
Dan kita, adalah rindu yang terkristal.
Meski kita punya satu imajinasi,
bersama dalam merangkul hati.
Memetik setangkai cinta yang tercumbui malam.
Atau mereguk seteguk angan dalam siang yang tak lagi perawan.
Hai, kamu...
Biarlah kita hanya kenang yang terbumbui oleh seoles rindu.
Atau kita hanya ikatan yang bernoktah luka dan sembilu.
Tak layak kita menjeput rindu
meski angin menawarkan kesejukan dalam keinginan.
Achhh...
Kuikhlaskan kau memelukku dalam ratapan rindu.
Atau mencumbuiku dalam ganasnya anganmu tentangku.
Karena akumu ini adalah sebuah episode yang tak ingin kau lepas
namun tak dapat kau gayut dalam rangkulmu.

Jakarta, 15 April 2022
(13 Ramadhan 1443 H)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAHASA NEGRIKU, BAHASA INDONESIA

DIAM ADALAH CARAKU BERBAHASA KEPADA ILLAHI

BICARA HATI