INDONESIA
INDONESIA
Oleh: Winariia Lubis
Indonesia
tanah tumpah darahku ...
Tiga belas
ribu empat ratus delapan puluh tujuh pulaumu ...
Oh
Nusantaraaa…!
Wilayahmu
terbentang sepanjang 3.977 mil...
Di antara
Samudera Hindia dan Samudera Pasifik ...
Kini,
setiap jejak khatulistiwamu adalah airmata ...
Minyak
bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit,
tanah
subur, batu bara, emas, dan perak ...
Simpanan
kekayaanmu ...
Yang kini
menjadi duri dalam daging ...
Karena
para koruptor itu, menari-nari di atas janji dan dusta ...
Meski kaya
akan sumber daya alam dan manusia ...
Tetap saja
Kau miskin karena Koruptor Binatang ...!!!
Puiihhh
...!!!!
Anak-anak
bangsa mulai melupakanmu, Indonesiaku ...
Pendidikan,
ternyata tak membangkitkan semangatnya tuk cintaimu ...
Karena
pendidikan,
telah
digandeng oleh unsur-unsur politik yang merajalela di dalamnya ...
Sehingga
untukmu Indonesia,
hanya
tinggal hiasan cerita dalam diskusi semata ...
Kasihannya
Engkau Indonesia ...
Sementara
...
Lihatlah
anak-anakmu yang lain ...
Mereka
menangis meng-iba ...
Kemiskinan,
kelaparan, kebodohan ...
Menjadi
momok dalam tiap kehidupannya ...
Mereka
hanya menjadi hiasan tinta para pengejar berita ...
Bahan
diskusi untuk para penggila kekuasaan ...
Diskusi
hanya sebatas kursi, setelah itu basi ...
Indonesiaaa...!
Di mana
para generasi penerus bangsa ini ...?
Di mana
para pemimpin negeri ini ...?
Di mana
pemberi janji dalam orasi setiap partai ...?
Di mana
...?
Mengapa
semakin buta mata hati mereka ...?
Mengapa
...?
Oohhh,
Indonesiaku ...!
Apakah
usiamu hanya sebatas bencana dan bencana ...?
Sampai kau
dan seluruh isimu, tenggelam, tertanam dan hilang ...
Setelah
itu, Kau hanya tinggal kenangan ...
Kenangan
pahit, karena anak-anakmu yang durhaka, KUALAT ...!
Kenangan
pahit, karena anak-anakmu yang berkhianat, BANGSAT ...!!!
Indonesiaku
...
Bertahanlah
engkau dalam tiap doa anak negeri ...
Anak-anak
negeri yang masih setia padamu ...
Anak-anak
negeri yang masih tetap mencintaimu ...
Anak-anak
negeri yang masih punya cita-cita untuk membahagiakanmu ...
Anak-anak
negeri yang masih berkhayal melihat Kau tetap tersenyum,
walau
sekarang luka hatimu masih menganga ...
Anak-anak
negeri yang hatinya masih murni, bersih, suci ...
Tapi,
aahhh entahlah ...
Komentar
Posting Komentar